Dunia dan Prinsip Seorang Muslim
![]() |
| Gambar 0.1 |
“Dan jadikanlah kenikmatan yang telah
Allah berikan kepadamu sebagai wasilah demi meraih kehidupan akhirat dan
janganlah kamu melupakan bagianmu dari kehidupan dunia” (QS. Al-Qashash : 77).
“Allahu Akbar Allahu Akbar”. Suara adzan subuh menggema di seantero alam, menggempakan sunyi dan memecah sepi. Setiap lantunan kalimat darinya berhembus diiringi oleh angin dingin semberibit yang juga berhembus diantara lembah-lembah pegunungan dan sela-sela dedaunan. Sahutan ayam sesekali mengiringi lantunan itu, menjadi pertanda bahwa para malaikat sedang turun ke bumi guna mendengarkan seruan agung tersebut sekaligus mencatat amal kebaikan bagi siapapun yang turut datang memenuhinya. Kehadiran adalah sebagai awal dimulainya waktu pagi, yang itu berarti segala bentuk kegiatan guna mengais rezeki akan segera dimulai.
Indahnya langit putih di pagi hari yang berhias semburat
jingga mentari pagi, bagaikan kanpas putih yang dipenuhi oleh lukisan tiada
tanding. Di waktu tersebut burung-burung kecil mulai berterbangan meninggalkan
sarang guna menjemput apa yang telah menjadi hak mereka, sebagaimana para
manusia pun mulai turun ke pinggiran jalan guna mendapatkan recehan yang akan
menjadi penunjang kehidupan sehari-hari mereka. Kepadatan lalu intas yang terus
bertambah seiring dengan semakin meningginya mentari pagi, disusul dengan
teriakan dan hiruk pikuk di dalam pasar yang solah bagaikan kumpulan suara yang
menyerukan akan pengharapan adanya kehidupan lebih baik, serta ribuan peluh
kalimat yang menetes dan merambas keluar dari balik baju para asongan,
pengampas, dan tukang becak menjadi bukti akan terealisasinya firman Allah:
“Dan telah kami jadikan waktu pagi hari sebagai waktu guna mengais rezeki” (QS.
An-Naba: 11).
Manusia adalah makhluk yang hidup dengan membawa dua peran
penting, disatu sisi ia adalah makhluk sosial yang tak akan mungkin mampu untuk
hidup kecuali harus berbaur dengan manusia lainnya, dan di sisi lain ia adalah
seorang hamba yang dituntut agar senantiasa patut dan tunduk kepada siapa yang
telah menciptakannya. Dua buah peran yang akan selalu melekat pada dirinya,
menghantarkan kepada sebuah kebutuhan akan adanya hal yang mampu untuk
mensinergisasikan keduanya agar senantiasa berada di atas keseimbangan. Hal itu
dikarenakan bila seseorang hanya memperhatikan sisi sosial tanpa memberikan
perhatian khusus atau bahkan meninggalkan perannya sebagai seoarang hamba, maka
murka dan kerugian akan ia dapatkan di kehidupan mendatang. Begitu pula
sebaliknya, bila seseoarang hanya berfokus kepada peran bahwa dirinya dalah
seorang hamba tanpa mempedulikan dan menyadari bahwa sebenarnya ia adalah
makhluk sosial, maka itu sama saja ia sedang berusaha untuk menyelisishi
sunnatullah, karena Allah berfirman: “Dan jadikanlah kenikmatan yang telah
Allah berikan kepadamu sebagai wasilah guna meraih kehidupan akhirat, dan
janganlah kamu melupakan bagianmu dari kehidupan dunia, serta perbaguslah
muamalahmu dengan rabbmu dan juga kepada para hamba-hambanya, sebagaimana
rabbmu telah berbuat baik kepadamu”. (QS. Al-Qashash: 77).
Di dalam menjalani kehidupannya, manusia butuh akan adanya
sesuatu yang sanggup untuk menunjang segala keperluannya, baik dari segi
sandang, pangan, ataupun papan. Maka demi mendapatkan hal itu ia harus
melakukan sebuah usaha, yang darinya Allah akan memberikan apa-apa yang memang
telah menjadi hak bagi dirinya. Hal itu dikarenakan segala macam bentuk rezeki
yang Allah tetapkan bagi dirinya tak akan mungkin ia dapatkan kecuali setelah
ia melakukan sebua usaha. Dari sinilah muncul sebuah gagasan bahwa pada
dasarnya bila seseorang malakukan sebuah usaha demi mendapatkan sesuatu dari
kehidupan dunia adalah suatu hal yang mubah atau diperbolehkan.
Namun dalam hal ini Syaikh Al-Utsaimin menyebutkan di dalam
kitabnya “ Al-Qoulul Mufid Ala Kitabit Tauhid” bahwa keinginan manusia demi
mendapatkan sesuatu dari kehidupan dunia terkadang hukumnya bisa berubah
menjadi haram atau bahkan naik hingga mencapai pada tingkat syirik. Hal itu
akan terjadi bila seseorang menjadikan dunia sebagai tujuan terbesar
kehidupannya hingga melupakannya dari kehidupan akhirat, atau menjadikan amal
akhirat sebagai wasilah demi mendapatkan secuil kenikmatan dari kehidupan
dunia. Itu semua dikarenakan ketika seseorang menginginkan sesuatu dari
kehidupan dunia dengan menggunakan cara yang telah kami sebutkan, maka tanpa
disadari hatinya akan mengeras dan lupa terhadap tujuan dari diciptakan dirinya
di dalam kehidupan ini, menyebabkan sikap tawakkal, syukur, dan sabar yang
seharusnya menjadi pendamping di dalam menjemput rezeki yang telah Allah
siapkan hilang dan digantikan dengan sikap sombong, congkak, dan merasa mampu
didalam usahanya guna mendapatkan sesuatu dari dunia tanpa pernah merasa butuh
untuk menggantungkan dan mengembalikan segala urusannya kepada Allah semata.
Maka tak heran bila dalam hal ini Allah berfirman: “Barang siapa yang beramal
guna mendapatkan kehidupan dunia dan kesenangannya semata tanpa menginginkan
darinya kehidupan akhirat, maka akan kami penuhi keiinginannya guna mendapatkan
hal tersebut”. (QS. Hud: 15).
Para ulama berbeda pendapat kepada siapakah ayat ini
diturunkan, namun Syaikh Al-Utsaimin memilih pendapat yang mengatakan bahwa
ayat ini turun tertuju kepada orang-oarang kafir, yang menjadikan tujuan
hidupnya hanyalah sebagai ajang guna mendapatkan segala macam bentuk kenikmatan
dunia. Hal ini diperkuat oleh firman Allah pada ayat setelahnya: “Mereka itu
adalah orang-orang yang tak memiliki balasan di hari kiamat kecuali api neraka,
semua yang telah mereka usahakan di dunia ini tidak berguna, dan di akhirat
akan menjadi sia-sia”. (QS. Hud: 16). Maka jelas dari ayat ini bahwa bagi
siapapun yang menjadi pola kehidupannya sama seperti pola kehidupan yang
dimiliki oleh orang-orang kafir, berarti sama saja ia sedang menempuh jalan kekufuran
dan kesyirikan di dalam mewujudkan keinginannya, karena Rasulullah bersabda:
“Barang siapa yang hidup menyerupai suatu kaum maka ia termasuk kedalam
golongan mereka”.(Al-Hadits).
Maka berangkat dari semua itu , penulis merasa perlu untuk
menyebutkan beberapa prinsip yang seyogyanya harus ada didalam pribadi seorang
muslim sejati, agar segala upaya yang kita usahakan guna mendapatkan sesuatu
dari kedupan dunia tak menyalahi aturan yang telah Allah tetapkan.Dan diantara
prinsip-prinsip tersebut adalah sebagaimana yang telah kami rangkum dari kitab
Al-qulul mufid ‘Ala kitabi attauhid dalam bab “termasuk dalam kesyirikan,
seseorang dalam beralamal demi mendapatkan dunia” pada halaman : 457
Pertama : Menyadari bahwa dunia hanyalah
tempat beramal dan bukan sebagai ajang untuk bersenang-senang, sebagaimana yang
telah tercantum didalam kitab bukhori dan muslim, bahwa suatu hari Umar bin
khattab menangis ketika mendapati guratan bekas tikar di kulit Rasulullah, maka
rasulullah bertanya : apa yang membuatmu menangis wahai umar? Umar menjawab:
Kisra (raja Persia dan Qaishor (raja Romawi) mereka berdua hidup dengan
kehidupan yang mereka miliki saat ini,sedangkan engkau wahai Rasulullah hidup
dengan keadaan seperti ini ; Maka Rasulullah pun menjawab : Mereka adalah kaum
yang Allah dahulukan kesenangannya didunia.
Kedua :
Berusaha untuk tetap qona’aah dan ridha terhadap rizki yang telah Allah
tetapkan bagi kehidupan kita. Karena salah satu ciri dari orang-orang yang
telah di perbudak oleh dunia adalah bila mendapatkan sebuah kenikmatan ia akan
senang dan berbangga diri dengan adanya hal tersebut, namun apa bila kenikmatan
itu ditahan atau diambil oleh Allah dan berubah menjadi sebuah musibah, maka
taka ada hal yang ia lakukan kecuali hanya marah dan bersedih tiada makna. Dan
sungguh, bukan seperti inilah sikap seseorang mukmin sejati di dalam menghadapi
hal semacam itu. Karena sikap yang ada didalam dirinya adalah bila mendapatkan
sesuatu yang membuat dirinya senang ia pun bersyukur, dan bila mendapatkan
sebaliknya maka ia pun bersabar.
Ketiga : menjadikan segala bentuk
kenikmatan yang ada didunia sebagai modal demi meraih kebaikan hidup di dunia
dan akhirat . Hal ini bertujuan agar manusia tak memiliki anggapan bahwa segala
apa yang ia miliki dari perbendaharaan dunia hanyalah sebagai bentuk guna
menunjang kehidupannya di dunia semata, dan melupakan bahwa sejatinya ia
memiliki sebuah kehidupan baru di akhirat kelak, yang tentunya baik dan buruk kehidupannya
pada masa tersebut di ukur dari seberapa besar dan banyak modal yang telah ia
tanam guna mendapatkannya.
Keempat : Berusaha untuk menjauhi segala
bentuk perilaku yang berpotensi menjadikan amal akhirat sebagai wasilah guna
mendapatkan kesenangan dunia. Misal sederhana dari hal ini adalah riya’, yang
mana seseorang melakukan sebuah amal ibadah guna mendapatkan pujian dan
sanjungan dari para manusia. Hal ini sangatlah berbahaya, mengingat bahwa riya’
adalah salah satu bentuk dalam kategori syirik kecil yang menyebabkan pada
hangusnya pahala dari amalan yang ia lakukan pada saat itu serta dapat
memancing akan timbulnya amarah dari Allah.
Sebagai penutup, kami ingin mengingatkan
diri kami pribadi dan kaum muslimin sekalian bahwa sebenarnya taka da yang
spesial dari diciptakannya kehidupan ini. Bahkan dalam sebuah riwayat,
Rasulullah memberikan sebuah permisalan akan hakikat dari kehidupan ini seperti
seonggok bangkai kambing busuk yang tentunya tak aka ada yang mau untuk
mengambilnya sekalipun di berikan secara Cuma-Cuma. Seorang yang menjadikannya
sebagai ambisi terbesar didalam hidup, maka segala urusan yang ia tujukan demi
mendapatkannnya akan terasa rumit dan melelahkan. Cukuplah kisah Qorun yang
tercantum di dalam Q.S Al-qashash ayat 76-82 dan apa yang telah menimpa pada
sipemilik dua kebun yang Allah kisahkan didalam Q.S AL-KAHFI ayat 32-42 menjadi
rambu-rambu tersendiri bagi kita didalam berambisi guna mendapatkan dunia.
Mereka menjadi bukti nyata bagi umat ini bahwa bagi siapapun yang memasukkan
dunia kedalam hatinya, maka hal itu akan memicu munculnya murka Allah. Hal itu
dikarenakan hati yang seharusnya menjadi tempat guna mengagungkan nama Allah
hingga memunculkan kecintaan kepadanya, akan menjadi rusak dan tercemar ketika
dunia yang nilainya lebih hina dari seonggok bangkai kambing busuk masuk
kedalam hati tersebut , menjadikan Allah cemburu , karena nama-Nya
tersingkirkan dengan masuknya hal tersebut kedalam hati seseorang.Maka sungguh
benar bagi sebuah pepatah hikmah yang mengatakan : Bukanlah menjadi masalah
ketika seseorang harus hidup di dunia, yang menjadi masalah adalah ketika dunia
masuk kedalam hati seseorang. Wallahu A’lam Bishowab.

Komentar
Posting Komentar