Momen Tahun Baru Sebagai Momen Perubahan
“Di dalam berjalannya waktu, silih bergantinya hari dan berlalunya bulan dan tahun, terdapat pelajaran yang berharga bagi orang yang mau merenungkannya.” (QS. Yunus : 6)
Tanpa terasa kita hampir memasuki tahun baru 2020. Sudah menjadi tradisi di setiap pergantian tahun banyak orang di Indonesia bahkan di berbagai belahan dunia sibuk mengucapkan selamat tahun baru, menyambut, dan merayakannya. Mereka itu terdiri dari orang-orang yang menganut berbagai macam agama dan kepercayaan, tak terkecuali orang Islam. Hal ini terlihat dari perilaku sebahagian umat Islam yang mengenakan atribut tahun baru dan bersiap-siap menyambut dan merayakan tahun baru dengan berbagai cara, baik dengan berkumpul di suatu tempat, meniup terompet, membakar mercon, kembang api, lilin, dan sebagainya. Menyambut dan merayakan tahun baru masehi sudah menjadi rutinitas dan tradisi lintas agama dan kepercayaan.
Sebahagian umat
Islam ikut-ikutan merayakan tahun baru masehi setiap tahunnya sebagaimana yang
dilakukan oleh orang kafir. Padahal, tradisi atau budaya merayakan tahun baru
bukan berasal dari Islam dan bukan pula budaya umat Islam. Perayaan tahun baru
sejatinya merupakan bagian ritual atau ibadah agama Romawi kuno yang menyembah
dewa-dewa (paganis) dan budaya orang-orang kafir. Bahkan ada juga yang
berpendapat perayaan tahun baru itu untuk merayakan hari kelahiran Yesus yang
diyakini oleh sebagian orang pada tanggal 1 Januari.
Selain
pengagungan terhadap dewa Janus (dewa agama Romawi kuno) dan Yesus, dalam
perayaan tahun baru umat Islam mengamalkan ritual tiga agama kafir sekaligus.
Nasrani menggunakan lonceng untuk memanggil jama’ahnya ketika beribadah. Yahudi
menggunakan terompet untuk memanggil jama’ahnya ketika beribadah. Majusi
menggunakan api untuk memanggil jama’ahnya ketika beribadah. Oleh karena itu,
perayaan tahun baru itu dilakukan dengan meniup terompet, membunyikan lonceng,
dan membakar mercon dan kembang api, membakar lilin dan sebagainya. Ini semua
merupakan ritual tiga agama kafir. Inilah bahaya merayakan tahun baru bagi
keimanan dan aqidah seorang muslim.
Sejarah
Perayaan Tahun Baru
Sejarah perayaan
tahun baru masehi bermula dari ritual masyarakat Romawi kuno yang mengkultuskan
dewa Janus. Dalam tradisi Romawi kuno, dewa Janus diyakini memiliki dua
wajah, satu wajah menghadap ke depan dan yang satunya lagi menatap ke belakang,
sebagai filosofi masa depan dan masa lalu, layaknya moment pergantian tahun.
Penamaan bulan Januari sendiri diambil dari nama dewa Janus.
Berikut kutipan
lengkap dari The World Book Encyclopedia tahun 1984, volume
14, halaman 237: “The roman ruler Julius Caisar established January 1
as New Year’s Day in 46 BC. The Romans dedicated this day to Janus, the god of
gates, doors, and beginnings. The month of January was named after Janus, who
had two faces – one looking forward and the other looking backward.” (Penguasa
Romawi Julius Caisar menetapkan 1 Januari sebagai permulaan tahun baru semenjak
abad ke 46 sebelum masehi (SM). Orang Romawi mempersembahkan hari ini (1
Januari) kepada Janus, dewa segala gerbang, pintu-pintu dan permulaan (waktu).
Bulan Januari diambil dari nama Janus sendiri, yaitu dewa yang memiliki dua
wajah, sebuah wajahnya menghadap ke (masa) depan dan sebuahnya lagi menghadap
ke (masa) lalu).
Fakta ini
menyimpulkan bahwa perayaaan tahun baru bukan berasal dari ajaran Islam dan
bukan pula budaya kaum muslimin. Perayaan tahun baru pertama kali dirayakan
oleh orang-orang kafir Romawi atau kaum paganis Romawi. Dengan demikian, maka
jelaslah bahwa perayaan tahun baru merupakan ritual peribadatan agama Romawi
kuno untuk mengangungkan dewa Janus. Penamaan Januari sendiri diambil dari nama
Janus.
Ada juga yang
berpendapat bahwa hari kelahiran Yesus itu tanggal 1 Januari, bukan tanggal 25
Desember seperti yang diperingati oleh sebahagian besar orang Kristen saat ini.
Oleh karena itu, tahun penanggalan tersebut disebut masehi, atau masehiah atau
al-Masih. Bisa dismpulkan bahwa merayakan tahun baru masehi berarti merayakan
hari kelahiran Yesus yang diyakini sebagai anak tuhan.
Dengan demikian,
jelaslah bahwa perayaan tahun baru Masehi bukan ajaran Islam. Perayaan malam
tahun baru pada hakikatnya adalah ritual para pemeluk agama bangsa-bangsa
eropa, baik nasrani ataupun agama lainnya. Sejak masuknya nasrani ke eropa,
beragam budaya paganis (keberhalaan) eropa bercampur masuk dalam ajaran
tersebut. Salah satunya adalah perayaan malam tahun baru. Bahkan menjadi satu
kesatuan dengan perayaan natal 25 Desember yang telah secara salah dipercaya
oleh bangsa eropa sebagai hari kelahiran Isa AS.
Memaknai
tahun baru:
Menurut hemat
saya, tahun baru dimaknai sebagai, pertama, bertambahnya
usia. Seiring bergantinya tahun, sejatinya umur kita bertambah. Bertambahnya
usia idealnya mematangkan kedewasaan baik dalam berpikir maupun bertindak. Cara
berpikir, bertindak mestinya mencerminkan usia. Karenanya, hidup selayaknya
dimaknai sebagai proses pembelajaran. Manusia harus pandai memetik pelajaran
dari pembelajaran tersebut. Sehingga akan memperbaiki kehidupan mereka. Di sisi
lain, bertambahnya usia berarti berkurangya waktu hidup. Sebab itu, jangan
pernah menyia-nyiakan hidup. Isilah kehidupan dengan sesuatu yang lebih
bermakna.
Hal tersebut
sesuai dengan apa yang diajarkan Allah SWT, yang tertulis dalam surat Al Ashr
yang bunyinya: "Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar
dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan
saling menasehati supaya mentaati kebenaran dan saling menasehati supaya menetapi
kesabaran."
Kedua, momentum evaluasi diri. Perayaan tahun
baru mengingatkan apa yang telah diperbuat. Maka, mengevaluasi diri
sepantasnya dilakukan. Mengevaluasi artinya menyadari segala kekurangan. Tahun
ini harus lebih baik dari tahun sebelumnya. Jika tahun ini sama dengan
sebelumnya berarti merugi. Kemudian jika tahun ini lebih buruk dari tahun
sebelumnya maka tidak hanya merugi, tapi celaka. Demikian, Sayidina Ali Bin Abi
Thalib ra menguraikan soal evaluasi diri.
Mengevaluasi
diri itu penting guna memperbaiki kehidupan. Dengan cara mengevaluasi diri
kekurangan bisa diperbaiki di masa yang akan datang. Melalui evaluasi diri
dapat diketahui apakah kita bisa mempergunakan waktu yang dianugrahkan atau
tidak? Dalam Al Quran terdapat surat Al Ashri, yang berartikan masa atau waktu
ashar. Allah bersumpah dengan menyebut waktu atau masa, bahwa manusia dalam
kerugian. Dipahami, kerugian manusia disebabkan karena mereka tak mampu
mengelola waktu secara baik dan benar.
Ketiga, menyusun program atau rencana. Hidup
wajib direncanakan agar kehidupan sesuai dengan tujuan. Dalam Al Quran
(QS.67:02) ditegaskan tujuan hidup untuk menguji, memilih siapa yang terbaik
amal atau karyanya. Guna meraih karya terbaik (dalam bahasa Quran disebut ahsana
amalan), hidup kudu diprogram, direncanakan. Kemudian menurut Rasulullah
SAW sebaik-baik orang adalah yang paling bermanfaat bagi yang lain. Alasan ini
menuntut hidup manusia agar bermanfaat bagi sesama.
Dan malam tahun
baru dijadikan sebagai titik awal dalam putaran tahun. Maka susunlah rencana
untuk tahun 2020 agar kehidupan lebih terarah. Hanya orang yang tidak berpikir
logis yang tak melakukannya. Hidup mengalir, apa adanya bukan pilihan tepat.
Salah kaprah namanya. Atau bentuk kepasrahan orang malas yang tak mau berusaha,
bekerja. Hidup sangat singkat. Apa kita mau menyia-nyiakannya? Tentu tidak.
Menyusun rencana
bermanfaat mempermudah mengantarkan pada kesuksesan, keberhasilan hidup.
Memiliki rencana berarti hidup dengan alur yang telah ditentukan, diinginkan.
Hidup pun menjadi jelas. Rencana hidup menentukan pilihan prioritas yang harus
didahulukan. Dan dalam rencana juga dijelaskan kemampuan, bakat, kompetensi
yang dimiliki oleh kita. Kemudian rencana pula memberi gambaran tantangan yang
akan datang dengan memilih atau menentukan cara menghadapinya secara tepat.
Kempat, menabur optimisme, menjemput harapan.
Setiap orang memiliki harapan dalam hidup. Harapan itu selayaknya disongsong.
Harapan tak akan datang dengan sendirinya. Harus ada usaha. harus dengan kerja
keras. Ikhtiar adalah prasyarat datangnya apa yang diharapkan. Menyambut
harapan diperlukan rasa optimisme. Optimisme adalah keyakinan atas segala
sesuatu dari segi yang baik dan menyenangkan dan sikap selalu mempunyai harapan
baik dalam segala hal. Optimisme bercirikan memiliki keyakinan kuat, gembira,
dan percaya diri akan hasil yang akan diraih di waktu mendatang.
Kelima, menghadirkan semangat baru. Tahun
baru harus menghadirkan semangat baru dalam meraih apa yang dicita-citakan.
Semangat hidup memang senantiasa dijaga. Jangan sampai melemah, melempem.
Semangat baru tak muncul begitu saja. Semangat baru butuh rangsangan. Program
hidup, harapan di masa mendatang merupakan faktor penting dalam memompah
semangat. Rasanya sulit bisa hidup lebih semangat jika tak ada harapan.
Allah Ta’ala
berfirman yang artinya:
“Di dalam berjalannya waktu, silih bergantinya
hari dan berlalunya bulan dan tahun, terdapat pelajaran yang berharga bagi
orang yang mau merenungkannya.”
Setiap masuk
tahun baru (Hijriyyah), manusia menitipkan lembaran-lembaran tahun yang telah
dilewatinya, sedangkan dihadapannya ada tahun baru yang menjelang
Bukanlah inti
masalah ada pada kapan tahun baru usai dan menjelang, akan tetapi yang
menjadi inti masalah adalah dengan apa kita dahulu mengisi tahun yang
telah berlalu itu dan bagaimana kita akan hiasi tahun yang akan datang.
Dalam
menyongsong tahun baru (Hijriyyah), seorang mukmin adalah sosok insan yang suka
tafakkur (berpikir) dan tadzakkur (merenung)
Tafakkur
(berpikir) yang pertama, yaitu tafakkur hisab (intropeksi)
Dia memikirkan
dan menghitung-hitung amalannya di tahun yang telah silam, lalu dia teringat (tadzakkur)
akan dosa-dosanya, hingga hatinya menyesal, lisannya pun beristighfar memohon
ampun kepada Rabbnya.
Tafakkur yang
kedua, yaitu tafakkur isti’daad (persiapan)
Dia
mempersiapkan ketaatan pada hari-harinya yang menjelang, sembari memohon
pertolongan kepada Tuhannya,agar bisa mempersembahkan ibadah yang terindah kepada
Sang Penciptanya, terdorong mengamalkan prinsip hidupnya yang terdapat dalam
ayat,
“Hanya
kepada-Mulah, kami beribadah dan hanya kepada-Mulah kami menyembah”.
Bukankah
hidup ini hakikatnya adalah perjalanan?
Rasulullah
Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setiap
hari, semua orang melanjutkan perjalanan hidupnya, keluar mempertaruhkan
dirinya. Ada yang membebaskan dirinya dan ada pula yang mencelakakannya” (HR.
Imam Muslim).
Tujuan hidup
seorang Muslim
Sesungguhnya
seorang Muslim, ketika meniti perjalanan hidupnya memiliki tujuan. Ia melakukan
perjalanan hidupnya agar dapat mengenal siapa Allah. Dengan mengetahui nama,
sifat, dan perbuatan-Nya. Inilah tujuan perjalanan hidup yang pertama ma’rifatullah (dalilnya:
QS.Ath-Thalaaq: 12). Kemudian dia iringi ma’rifatullah itu
dengan ‘Ibadatullah (beribadah dan ta’at kepada Allah). Dan
inilah tujuan perjalanan hidup yang kedua bagi seorang Muslim, yaitu agar dia
bisa beribadah hanya kepada-Nya saja dengan benar (dalilnya QS.Adz-Dzaariyaat :
56), ia persembahkan jiwa raganya untuk Allah.
“Katakanlah sesungguhnya shalatku, ibadahku,
hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.”
“Tiada sekutu
bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang
yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)” (QS. Al-An’aam:162-163).
Akhir
perjalanan hidup seorang Muslim
Demikianlah
kehidupan seorang Muslim terus melakukan perjalanan hidup, berpindah dari satu
bentuk ibadah ke bentuk ibadah yang lainnya, baik dengan ibadah lahiriyah,
hati, maupun keduanya, tanpa henti-hentinya.
“Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu
sesuatu yang diyakini (ajal)” (QS.
Al-Hijr: 99).
Adapun akhir
perjalanan adalah surga, di dalamnyalah tempat peristirahatan muslim yang
abadi, istirahat dari letihnya perjalanan sewaktu di dunia dahulu, menikmati
kenikmatan yang tidak pernah dilihat mata, tak pernah didengar telinga, dan tak
pernah terbetik dalam hati manusia.
”Dan
bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya
seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa” (QS.Ali ‘Imran : 133).
Lebih dari itu,
ia akan merasakan kenikmatan tertinggi, yaitu bisa melihat wajah Allah Ta’ala.
Allah Ta’ala
berfirman: ”Mereka di dalamnya memperoleh apa yang mereka kehendaki; dan
pada sisi Kami ada tambahannya” (QS.Qaaf : 35).
Ironis
Negara kita yang
tercinta ini, dengan penduduk yang mayoritas kaum muslimin, yang seharusnya
memiliki prinsip dan sikap seperti apa yang telah disebutkan di atas ternyata
setiap malam tahun baru masehi, di setiap kota besar khususnya, marak
bermunculan acara-acara besar untuk merayakan tahun baru tersebut. Dan jujur
kita katakan, bahwa barangkali tidak ada satu pun dari acara-acara tersebut
yang terbebas dari kemaksiatan. Bahkan, mungkin Anda bergumam Bukan
hanya maksiat, tapi juga menelan dana yang besar.
Coba renungkan,
berapa puluh milyar anggaran yang dikeluarkan untuk menyambut tahun baru di ibu
kota negara maupun kota-kota provinsi? Dengan biaya itulah, ratusan panggung
“hiburan” di berbagai penjuru kota-kota besar justru difasilitasi secara resmi
dengan segala hingar bingarnya yang didukung dengan besarnya dana. Uang pun
dihambur-hamburkan untuk menghiasi jalan-jalan kota, “pesta” terompet, mercon,
dan kembang api .
Berbagai bentuk
kemaksiatan pun dapat mudah ditemukan di banyak tempat, bukan hanya di tengah
kota, jalan besar, taman kota, hotel, dan kafe. Sampai-sampai di sebagian
lapangan desa dan jalan kampung pun, tidak jarang kemaksiatan mudah ditemukan
di malam tahun baru masehi itu.
Maka dari itu
alangkah baiknya jika seorang muslim menjadikan momen tahun baru ini sebagai
momen perubahan untuk menjadi muslim yang sejati, dengan bermuhasabah,
bertafakkur, dan selalu mengerjakan amal-amal baik, karena tidak ada satu tahun
pun berlalu dan tidak pula satu bulan pun menyingkir melainkan dia menutup
lembaran-lembaran peristiwanya saat itu, pergi dan tidak kembali, jika baik
amal insan pada masa tersebut, maka baik pula balasannya, namun jika buruk,
penyesalanlah yang mengikutinya.
Penyusun:
Abdullah Asy-Syafi’i
dari berbagai
sumber
Diketik oleh: klik disini

Komentar
Posting Komentar